Ketika Korupsi Bersembunyi di Balik Angka Kecil
Tentu saja, teknologi bukan obat mujarab untuk memberantas korupsi. Algoritma tidak dapat menggantikan integritas manusia. Sistem secanggih apa pun tetap membutuhkan auditor yang profesional, pejabat yang berkomitmen pada tata kelola yang baik, dan pimpinan institusi yang berani mengambil tindakan ketika menemukan penyimpangan.
Namun, teknologi dapat membantu mempersempit ruang gelap yang selama ini dimanfaatkan oleh pelaku kecurangan.
Yang perlu dikoreksi adalah cara pandang lama bahwa paket kecil selalu berarti risiko kecil. Selama asumsi itu masih dipertahankan, praktik pemecahan paket akan terus menjadi jalan yang aman bagi mereka yang ingin menghindari pengawasan. Kita pun akan terus membaca temuan yang serupa dari tahun ke tahun, hanya dengan nama institusi yang berbeda.
Perbaikannya sesungguhnya tidak membutuhkan perubahan besar-besaran. Yang dibutuhkan adalah keberanian setiap perguruan tinggi untuk mengakui bahwa potensi penyimpangan bisa saja terjadi di lingkungan mereka sendiri. Setelah itu, institusi perlu membangun sistem pengawasan yang mampu mendeteksi pola, bukan sekadar menghitung nilai transaksi.
Pada akhirnya, reputasi akademik tidak hanya ditentukan oleh akreditasi unggul, peringkat internasional, atau jumlah publikasi ilmiah. Tata kelola yang bersih juga merupakan bagian penting dari kualitas sebuah perguruan tinggi. Sebab, sebesar apa pun prestasi yang diraih, nilainya akan berkurang jika di baliknya masih terdapat celah pengelolaan anggaran yang dibiarkan terbuka.
Penulis adalah dosen dan praktisi di Universitas Sumatera Utara.








Komentar