Pemasaran sebagai Ujung Tombak: Negara Menyapa Usaha Rakyat dari Mataram
Mataram, Dailyklik.id — Pemerintah kembali menurunkan jangkar kebijakannya ke titik paling mendasar dalam ekosistem usaha rakyat: pasar. Di Kota Mataram, Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat menggelar Dialog Transformasi Pemasaran Usaha Masyarakat, sebuah forum yang menempatkan pemasaran bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai penentu hidup-matinya usaha kecil.
Forum ini mempertemukan pelaku usaha, birokrat, akademisi, dan penggerak koperasi dalam satu meja diskusi. Di sanalah Annas Fitrah Akbar, pendiri Biuus Indonesia, menyampaikan pandangannya dengan lugas. Ia melihat dialog ini sebagai bukti keseriusan pemerintah membaca persoalan klasik UMKM: produk boleh bagus, kualitas bersaing, tetapi akses pasar sering kali menjadi tembok tertinggi.
Menurut Annas, banyak usaha masyarakat masih terjebak pada kebanggaan produksi. Padahal, tanpa strategi pemasaran yang kuat, produk hanya akan berhenti di etalase lokal. Pemasaran, kata dia, adalah ujung tombak usaha—bahkan lebih menentukan daripada proses produksi itu sendiri.
Perubahan pola konsumsi, pergeseran ke pasar digital, serta persaingan yang makin ketat menuntut pelaku usaha untuk naik kelas. Branding, perluasan akses pasar, dan pemanfaatan ekosistem digital tidak lagi bisa diperlakukan sebagai pilihan tambahan. Transformasi pemasaran, bagi Annas, seharusnya menjadi agenda kebijakan yang ditempatkan di garis depan.
Nada serupa disampaikan Asisten Deputi Pemasaran Usaha Masyarakat Kemenko PM, Abdul Muslim. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa dialog ini merupakan wujud kehadiran negara dalam setiap upaya mendorong usaha masyarakat agar tumbuh lebih kuat dan adaptif. Pemerintah, ujarnya, tidak boleh berhenti pada regulasi, tetapi harus hadir hingga ke praktik pemasaran di lapangan.








Komentar