Pemasaran sebagai Ujung Tombak: Negara Menyapa Usaha Rakyat dari Mataram
Dialog tersebut juga menjadi ruang temu antara kebijakan pusat dan realitas daerah. Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lalu Mohammad Faozal, bersama Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB, Ahmad Masyhuri, menekankan pentingnya strategi pemasaran yang selaras dengan karakter lokal. NTB, dengan keragaman produk dan kekhasan pasar, membutuhkan pendekatan berbasis klaster, bukan kebijakan seragam dari pusat.
Diskusi semakin berlapis dengan kehadiran perwakilan Bappeda NTB, pelaku koperasi Adhar Malaka dari Rintam Pangan Makmur, serta akademisi Universitas Muhammadiyah Mataram, Siti Atika Rahmi. Mereka menyoroti pentingnya integrasi lintas sektor agar sistem pemasaran usaha masyarakat tidak bersifat sementara, melainkan berkelanjutan.
Bagi Annas, dialog ini seharusnya menjadi titik awal, bukan akhir. Ia berharap forum semacam ini melahirkan kebijakan yang terukur dan berdampak langsung bagi pelaku usaha. Usaha masyarakat, katanya, tidak boleh terus menjadi penonton di pasar yang semakin kompetitif. Dengan strategi pemasaran yang tepat, mereka berpeluang menjadi pelaku utama—bahkan pencipta nilai baru dalam perekonomian.

Dialog Transformasi Pemasaran Usaha Masyarakat pun ditutup dengan satu benang merah: pertumbuhan ekonomi rakyat tak cukup ditopang oleh produksi semata. Ia membutuhkan pasar yang adil, kebijakan yang berpihak, dan negara yang hadir hingga ke ujung tombak usaha.








Komentar