Gelar Sosialisasi di Kupang, Gereja Dorong Kemandirian Umat Lewat Ketahanan Pangan dan Pastoral Migran
Memperkenalkan nilai ASG (Apostolic Social Group) — prinsip kerasulan sosial gereja, ia menyebut perlu ditanamkan semangat pelayanan, kejujuran, dan tanggung jawab dalam aktivitas ekonomi umat. Sesi kedua dibawakan oleh Suster Laurentina, SDP dari Komisi Keadilan Pastoral Migran, yang memaparkan pentingnya migrasi aman dan perlindungan martabat manusia.
Mengawali pemaparannya, Laurent berkata fenomena migrasi tidak bisa dipandang semata-mata dari perspektif ekonomi, melainkan juga harus diperhatikan dalam “aspek kemanusiaan dan perlindungan hak-hak pekerja migran.”
Suster yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Divina Providentia Kupang itu menjelaskan faktor-faktor pendorong terjadinya migrasi di NTT. “Minimnya lapangan kerja, keterbatasan akses pendidikan, dan terbatasnya peluang pelatihan keterampilan,” membuat banyak warga merasa harus mencari penghidupan di luar daerah atau bahkan luar negeri.
Kondisi ini, menurutnya, menjadi pemicu utama migrasi yang sering dilakukan tanpa persiapan yang matang. Namun, kata Laurentina, banyak juga pekerja migran yang berangkat tanpa informasi dan perlindungan yang memadai, sehingga rentan menghadapi berbagai risiko, termasuk kekerasan, eksploitasi, dan perdagangan orang.
Ia menekankan bahwa ketidaktahuan terkait hak-hak pekerja dan prosedur legal sering membuat mereka mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. “Migrasi adalah kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari. Namun, prosesnya harus diperhatikan agar setiap manusia tetap dihormati dan dilindungi, baik saat keberangkatan maupun ketika berada di tempat tujuan,” katanya pada 12 Oktober.








Komentar