Gelar Sosialisasi di Kupang, Gereja Dorong Kemandirian Umat Lewat Ketahanan Pangan dan Pastoral Migran
Selain itu, akses terhadap sarana produksi pertanian dan permodalan masih terbatas, sementara “regenerasi petani berjalan lambat karena generasi muda lebih memilih merantau.” Dampaknya, banyak keluarga yang berlatar belakang petani mengalami penurunan produktivitas lahan, dan kesulitan ekonomi yang berujung pada ketergantungan pada bantuan pemerintah atau menunggu kiriman dari keluarga migran.
Untuk menjawab situasi itu, kata Marsel, Komisi PSE mendorong penguatan kapasitas umat melalui “pelatihan pertanian organik, pembuatan pupuk dan pestisida alami, serta pengolahan pakan ternak lokal.”
Selain itu, PSE juga memfasilitasi pembagian benih padi, jagung, dan sorgum, serta menjalin kerja sama dengan Dinas Pertanian dan Balai Teknologi Pertanian. "Tujuan akhirnya agar umat tidak bergantung pada bantuan dari luar, tetapi mampu berdiri di atas kekuatan sendiri,” katanya.
Untuk menyokong bidang pertanian, Marsel juga memperkenalkan konsep Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Credit Union (CU) sebagai sarana membangun budaya menabung dan mengelola keuangan keluarga. “Melalui koperasi atau Credit Union, umat belajar menabung, mengatur keuangan, dan menolong sesama anggota. Inilah bentuk nyata solidaritas ekonomi dalam Gereja,” katanya.
Komisi PSE, kata dia, juga tengah merancang pembentukan Forum Koperasi tingkat Keuskupan sebagai wadah pembinaan dan jejaring antar kelompok ekonomi umat di berbagai paroki. Upaya ini akan didukung oleh kerja sama dengan Puskopdit Timor, lembaga payung koperasi kredit di wilayah Nusa Tenggara Timur.








Komentar