Sekilas Info

Ibu Habiba, Penjaja di Pasar Nangahale yang Pernah Dilipat Gelombang Tsunami 1992

DAILYKLIK.ID, SIKKA – Di sudut sunyi Pasar Nangahale, di bawah terpal tua yang bergoyang ditiup angin pesisir, duduk sosok tua yang menyimpan cerita langka dan menggugah. Namanya Ibu Habiba. Seorang pedagang kecil yang tak hanya menjajakan hasil kebun dan laut, tetapi juga menyimpan sejarah luka dari tragedi gempa dan tsunami Pulau Babi yang mengguncang Maumere, Flores, pada 1992.

Kepada tim jurnalis yang tak sengaja menemuinya, Ibu Habiba membuka lembaran kelam hidupnya. Dengan suara lirih dan mata yang masih menyimpan kabut kehilangan, ia mengisahkan detik-detik saat gelombang raksasa merenggut keluarganya.

“Saya tergulung ombak... seperti dilipat karpet besar. Saya tak tahu apakah masih hidup atau sudah mati. Saya cuma bertanya-tanya, ini surga atau neraka,” ucapnya, menatap kosong ke arah laut.

Hari itu, puluhan tahun silam, Ibu Habiba kehilangan suaminya, Tahang, dan anak perempuannya. Tubuhnya sendiri nyaris tak selamat—kakinya patah, tubuh terombang-ambing, dan jiwanya porak-poranda. Ia terpisah dari anak-anak lainnya, hingga akhirnya ditemukan dan diungsikan ke Desa Nangahale, tempat ia menetap hingga kini.

Di usia senjanya, Ibu Habiba masih berjualan. Bukan demi mencari kaya, tetapi sekadar bertahan hidup. Ia menukar garam, pisang, ikan kering, dan kunyit dengan kebutuhan harian. Sistem barter sederhana menjadi denyut hidupnya.

Selanjutnya 1 2
Penulis: Faidin
Editor: Dedy Hu
Photographer: Faidin

Baca Juga