Semana Santa Larantuka: Sakralitas yang Terancam Jadi Konten Belaka
Prosesi Rabu Trewa, misalnya, yang semestinya sunyi dan penuh ratapan, kadang terganggu oleh derak kamera dan bisik-bisik pengunjung yang lebih sibuk mencari angle terbaik ketimbang merenung.
“Tradisi ini bukan tontonan. Semana Santa adalah ajakan untuk menunduk, bukan mendongak ke kamera,” tegas Pastor Paroki Reinha Rosari dalam homilinya.
Mereka yang sungguh mencintai Semana Santa sedang berjuang menjaga makna, agar tradisi tidak tercerabut dari akar imannya. Umat Larantuka, termasuk perempuan-perempuan tua yang merias Patung Tuan Ma dan anak-anak muda Confreria, masih setia membaktikan diri bukan demi popularitas, tapi karena cinta akan warisan iman.
Semana Santa bukan panggung. Ia adalah perziarahan batin. Dan di tengah dunia yang riuh mencari sorotan, Larantuka terus berbisik: ada hal-hal yang tak butuh diabadikan, cukup dihayati.








Komentar