Lau Debuk-Debuk Menangis: Ketika Surga Alam Dijadikan Ladang Pemerasan
Oleh: Fauzan Nur Ahmadi, Dosen dan Peneliti Universitas Sumatera Utara
Ada yang salah di Lau Debuk-Debuk. Bukan air panasnya. Bukan kabut Sinabung yang setiap pagi memeluk perbukitan Karo dengan tenang. Yang bermasalah adalah cara kita memperlakukan tempat seindah itu.
Jalan menuju surga alam itu perlahan berubah menjadi lorong pemerasan. Wisatawan datang membawa kegembiraan, tetapi pulang dengan kemarahan. Mereka membawa pulang cerita yang lebih cepat menyebar daripada promosi wisata mana pun.
Dan yang menyedihkan, ini bukan cerita baru.
Pada 2022, polisi menangkap tiga pelaku pungli di kawasan Sidebuk-debuk. Modusnya sederhana: menghentikan kendaraan dan meminta uang dengan ancaman tidak boleh melintas bila menolak membayar. Ancaman hukumnya tidak main-main, sembilan tahun penjara.
Namun sehari setelah penangkapan itu, praktik serupa tetap berlangsung di lokasi yang sama. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Kisah yang hampir serupa juga terjadi di Danau Lau Kawar. Perebutan hak memungut uang bahkan pernah berujung pembacokan. Wisatawan yang memprotes tarif tak masuk akal dipukul dan akhirnya melapor ke polisi.