GMNI Sikka Gedor DPRD: Kematian Ibu Hamil Bukti Gagalnya Sistem Kesehatan!”
Pemerintah pun merespons dengan langkah sementara: mendatangkan dr. Fahrul dari RS St. Gabriel Kewapante. Namun, tugasnya di RSUD TC Hillers hanya berlaku selama satu minggu. Sementara, dua dokter anestesi sebelumnya—dr. Remidazon dan dr. Yosefin—menjadi perbincangan publik karena diduga mogok kerja lantaran diberi honor yang kurang memadai.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bahkan mengancam mencabut Surat Izin Praktik (SIP) keduanya. Ia menyebut tindakan mereka sebagai pelanggaran tanggung jawab kemanusiaan. Namun, dr. Remidazon menampik tudingan tersebut, mengklaim kontraknya sudah berakhir Desember 2024 dan tak ada evaluasi kinerja yang dijanjikan pemerintah.
Kisruh ini menelanjangi banyaknya celah dalam tata kelola kesehatan daerah, mulai dari persoalan insentif, sistem kontrak yang rapuh, hingga lemahnya komunikasi antar pemangku kepentingan.
Sementara itu, GMNI menegaskan akan terus mengawal persoalan ini hingga dokter anestesi kembali tersedia secara permanen di RSUD TC Hillers. “Kami tak ingin ada lagi Maria Yunita berikutnya,” pungkas Sabrina. (*)








Komentar