Sekilas Info

Multigrade Berhasil, Pengalaman Probolinggo Diapresiasi

Pembelajaran: Plt. Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikmen), Toni Toharudin, mengamati proses pembelajaran multigrade di beberapa sekolah di Probolinggo. Toni berkunjung ke Probolinggo untuk melihat dampak implementasi program multigrade.

“Pendekatan inovatif ini sangat bermanfaat di daerah yang mengalami kekurangan tenaga pendidik, memastikan bahwa para siswa tetap dapat belajar secara efektif meskipun dengan keterbatasan sumber daya. Program kelas multigrade di Kabupaten Probolinggo adalah contoh nyata dari kemitraan pendidikan antara Pemerintah Australia-Indonesia yang terbaik, menunjukkan bagaimana kita dapat berkolaborasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil,” terangnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdaya) Probolinggo, Dwijoko Nurjayadi, mengatakan bahwa program multigrade berawal dari temuan Pemkab Probolinggo yang mengidentifikasi banyak sekolah mengalami kekurangan guru dan siswa. Pada tahun 2018, tercatat sebanyak 232 sekolah di wilayah pelosok pegunungan dan kepulauan mengalami kekurangan guru.

Selain itu, banyak guru yang akan memasuki masa purna tugas. Pada tahun yang sama, Pemkab Probolinggo dan INOVASI mencoba mengatasi masalah itu dengan mengujicobakan pembelajaran multigrade di 8 sekolah kecil yang berada di Kecamatan Sukapura.

Setelah berhasil di sekolah contoh, Pemkab Probolinggo menyebarluaskan multigrade ke lebih banyak sekolah. Setelah tujuh tahun, Pemkab Probolinggo telah berhasil meningkatkan mutu pembelajaran di 160 sekolah dengan pendekatan multigrade. Penyebarluasan ini sepenuhnya menggunakan APBD Probolinggo.

Interaksi: Tim Stapleton, Minister Counsellor of Governance and Human Development Kedutaan Besar Australia di Jakarta, berinteraksi dengan siswa di SDN Ngadisari 1, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (6/2). Tim berkunjung ke Probolinggo untuk melihat dampak implementasi program multigrade.

"Kami telah merasakan hasil dari multigrade ini yang berhasil mengatasi kekurangan guru di wilayah terpencil di Kabupaten Probolinggo. Untuk itu, sebagai komitmen bersama, kami kemudian mengembangkan secara mandiri ke 160 sekolah lainnya dengan kondisi yang sama," terang Dwijoko (*)

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Dedy Hu

Baca Juga