Mangrove dan Harapan Hidup Masyarakat Pesisir Timur Pulau Bangka
Saat ini, kawasan mangrove di Sungai Lempuyang dan Sungai Kurau, menjadi harapan bagi ribuan masyarakat desa di sekitar pesisir timur Kabupaten Bangka Tengah.
“Di pesisir timur, cuma mangrove ini yang bagus. Kalau dari depan Baskara Bakti, Tanjung Gunung, Batu Belubang, Sampur hingga Sungailiat, sudah rusak karena banyak penambangan timah,” kata Anjol (38), warga Desa Jelutung yang melaut di sekitar Sungai Lempuyang.
Pada 2021 lalu, sekelompok penambang dengan satu kapal isap berniat memasuki muara Sungai Lempuyang, namun masyarakat menolak.
Baca juga:
Tok!! RUU Perjanjian Ekstradisi Bakal Disahkan, Buronan RI Tak Bisa Lagi Bersembunyi di Singapura
“Kami sudah sepakat untuk menjaga mangrove dan laut di sekitar Sungai Lempuyang hingga Sungai Kurau. Berkaca dari kampung lain, hilangnya mangrove membuat hidup susah,” kata Anjol dikutip dailyklik dari Mongabay Indonesia.

Harus dijaga
Berdasarkan kompilasi data Walhi Kepulauan Bangka Belitung, dalam Perda RZWP3K Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2020, di pesisir timur Pulau Bangka terdapat 229.000 hektar zona pertambangan, budidaya (46.122,5 hektar), industri maritim (47,1 hektar), pelabuhan (4.892,5 hektar), dan wisata (16.200,5 hektar).
Direktur Walhi Kepulauan Bangka Belitung, Jessix Amundian mengatakan semua aktivitas tersebut dapat mengancam kelestarian ekosistem mangrove, khususnya di pesisir timur Pulau Bangka.
“Jika keliling Bangka, mangrove di pesisir barat (Selat Bangka) lebih baik dan rapat,” kata Jessix.
Baca juga:
Menelusuri Eksotisme Air Terjun Turbo
Menurut data Walhi Kepulauan Bangka Belitung pada 2021, tercatat 10 kasus kecelakaan laut, sebanyak 10 orang meninggal dan 3 luka-luka. Tahun 2022, terjadi 7 kasus kecelakaan laut (7 meninggal dan 13 luka-luka) akibat cuaca ekstrim.
“Sebagian besar korban adalah nelayan yang terpaksa melaut saat cuaca ekstrim seperti sekarang,” kata Jessix.








Komentar