Mangrove dan Harapan Hidup Masyarakat Pesisir Timur Pulau Bangka
Juli mengisahkan bahwa dulu, masyarakat di Dusun Tanah Merah juga rutin mengadakan sedekah kampung setiap bulan Muharram disertai larangan melaut tiga hari. Bagi yang melanggar akan mendapat sanksi dari ketua adat, atau terkena sakit.
“Tapi acara itu sudah hilang sejak tahun 90-an, karena tidak ada regenerasi ketua adat. Meski begitu, masyarakat di sini masih memegang teguh nilai-nilai menjaga laut, besar harapan sedekah kampung kembali dihidupkan,” ungkapnya.
Hingga saat ini, masyarakat dari sekitar Sungai Lempuyang masih terhubung dengan mangrove dan laut.
“Nelayan ada yang dari Jelutung, Belilik, Cambai, Air Mesu, dan lainnya. Terkadang ada yang masih satu keluarga, hanya beda desa. Kami kompak untuk menjaga mangrove dan laut,” lanjut Juli kepada Mongabay Indonesia dikutip dailyklik.
Baca juga:
Kepala Otorita IKN Nusantara dan Wakilnya Dilantik Presiden Jokowi Sore Ini
Perubahan luasan
Berdasarkan penelusuran Mongabay Indonesia yang dikutip dailyklik, dibandingkan wilayah Dusun Baskara Bakti hingga Pantai Sampur (Desa Kebintik) yang sudah tersentuh penambangan timah, kondisi mangrove dari pesisir Dusun Tanah Merah (Sungai Lempuyang) hingga Sungai Kurau, masih relatif baik.
Merujuk jurnal Akuatik Sumberdaya Perairan Universitas Bangka Belitung, berjudul “Perubahan Luasan Mangrove Pesisir Timur Kabupaten Bangka Tengah Menggunakan Citra Satelit ASTER” oleh Navisa Savira, Agus Hartoko, dan Wahyu Adi, luasan mangrove di wilayah tersebut mencapai 964,4 hektar (2017).
Namun, luasan mangrove ini jauh berkurang. Pada 2002 (1.104,3 hektar), 2014 (928,17 hektar), dan 2017 menjadi 964,4 hektar. Adapun jenis mangrove yang mendominasi di lima stasiun penelitian (Tanah Merah, Belilik, Kurau Timur, Kurau Barat dan Penyak), yakni Rhizophora apiculata (bakau), Soneratia alba (perepat), Avicennia lannata (api-api), Avicennia marina (api-api putih), dan Nypah frutican (nipah).

Dalam jurnal yang sama, berdasarkan penelitian Haba (2013), penurunan luasan mangrove di Bangka Belitung berkaitan dengan penebangan (industri arang) dan tambang laut.
Baca juga:
Inilah 5 Kabupaten Termiskin di NTT, Totalnya Mencapai 20 Persen Populasi
“Akibatnya, populasi kepiting, rajungan, dan hewan hewan yang habitatnya di mangrove berkurang. Padahal kepiting dan rajungan merupakan komoditas utama nelayan lokal. Laju perusakan tidak seimbang dengan gerakan reboisasi hutan dan lahan,” tulis jurnal Akuatik Sumberdaya Perairan Universitas Bangka Belitung terbitan 2018 mengutip Mongabay Indonesia.








Komentar