“Orang Tua” Sejati
“Tok. Tok. Tok”, bunyi ketukan pintu yang diketuk oleh salah seorang siswa yang telah pulang dari asrama.
“Selamat pagi, pak Guru”.
“Selamat pagi, anak” .
“Kalian dari mana?”
“Kalian bertiga, ayo, datang kemari dulu”, pintah pak guru.
Sambil melangkah dengan wajah penuh bersalah, mereka menghampiri pak guru. Mereka berdiri laksana prajurit di depan gurunya.
“Kalian dari mana?”, tanya gurunya lagi sambil memastikan jawaban yang dilontarkan oleh ketua kelas tadi.
“Kami dari asrama, pak guru. Kami memanggil orang tua asrama untuk datang ke sekolah. Mereka diminta ke sekolah untuk mengahadap pihak sekolah karena kami sering alpa, pa guru”, jelas Keisa.
“Begitu?”
“Iya, pak guru”
“Bagus ya, kalian yang alpa, orang tua asrama yang dapat panggilan. Kalian yang buat orang tua asrama yang kena getah. Bagus, ya, Keisah, Akurnia, dan Ribka?”
“Tidak, pak guru”, jawab mereka.
“Bagus, kalau gitu. Dalam sehari, ketika anda alpa atau izin, ataupun sakit, kalian tetap rugi. Setiap hari ada nilai atau pengetahuan tersendiri. Dan waktu terus berjalan. Menimba ilmu, laksana menabung uang. Setiap hari anda menyimpan uang, walaupun nominalnya kecil, pasti suatu ketika akan banyak. Begitu juga pengetahuan”
“Sudah. Kembali ke tempatnya masing-masing. Dan kerjakan soal-soalnya”, pintah gurunya.
Semua mereka kembali hening lagi. Kosentrasi mereka hanya pada angka-angka dan rumus yang tepat.
Suasana hening berjam-jam.
Melihat keheningan mereka, guru mereka merasa penasaran untuk mengetahui seberapa susahnya soal saat itu.
Kaget melihat mereka. Ada yang mencakar. Ada yang tidak. Ada yang benar-benar berpikir. Ada yang tidak.
“Evendi, mana hasil cakarmu”, tanya guru itu kepada salah seorang siswa.
“Tidak ada, pak guru”, jawabnya.
“Loh…. Ko bisa? Dari mana hasil jawabanmu itu”
“Pakai feeling sa, pak guru. Cakar pun tidak dapat jawaban”.
“Loh…. Ko bisa tidak dapat jawaban? Emangnya kenapa?”
“Tidak belajar, pak guru”
“Kenapa tidak belajar?”
“Semua buku catatan ditaruh di sekolah, pak”
“Loh, ko bisa?”
“Emangnya orang tuamu tidak pernah menanyakanmu tentang apa saja yang kamu pelajari di sekolah, atau mana catatanmu?”
“Pernah, pak guru. Tetapi jawabku, semua buku disimpan di sekolah”
“Kalau kelakukanmu seperti ini, diketahui orangtuamu di rumah, apa perasaanmu?”
“Malu, pak guru”
“Yang pasti, orang tuamu sangat malu. Malu karena kerja seperti ini. Cuma pakai feeling sa. Kamu harus malu juga karena tidak menghargai orang tua di rumah, guru mata pelajaran, bahkan dirimu sendiri”.
“Nak, masa depanmu ditentukan oleh anda sendiri. Kelak, kalau anda tidak sukses, ya, karena malasmu. Malas untuk belajar. Padahal belajar untuk anda sendiri. Besok-besok anda yang bahagia. Anda yang menjadi “manusia”, seperti pejabat, polisi, tentara, dan lain-lain. Bukan orang lain”, jelas gurunya sambil memohon kepadanya.








Komentar