Menuntut Ilmu, dan Kehidupan Jauh dari Orang Tua
Teman-teman yang tinggal dengan orang tua, kalian sangat bersyukur. Bisa melihat senyum orang tua kalian pada pagi hari. Bisa makan masakan ibu kalian. Bisa berkumpul bersama keluarga kalian. Sedangkan kami yang tinggal di asrama, dan jauh dari orang tua dan keluarga, kami sangat rindu akan masakan ibu, senyuman orang tua, dan perkumpulan dengan keluarga. Dan sungguh sangat senang, kalau ada liburan. Kami harapkan hari libur. Ketika libur kami semua pulang kampung dan tentunya kami sangat bahagia karna bisa berjumpa dengan keluarga kami.
Kalau libur tiba, saya dijemput ayah saya untuk pulang ke kampong. Setelah sampai di rumah, tentunya, ibu dan adik-adik saya menyambut saya dengan pelukan yang hangat. Air mata menetes, untuk melepas rindu yang sudah lama ditahan dan terpendam di dalam batin kami. Adik kedua saya, Decha, dia bercerita kepada saya.
“Di saat kakak minta uang, mama dan papah berusaha keras cari uang, pinjam sana-sini untuk kakak. Walaupun itu tidak mudah. Kakak yang rajin ya sekolahnya sampai kakak sukses mengurus kami lagi serta membanggakan mamah dan papah”, saya pun terdiam dan terpaku saat mendengar ceriat adik saya.
“Betapa berdoasanya saya betapa bodohnya saya, sudah membuat orang tua saya susah”, saya mulai berfikir dan berfikir.
Dari situ saya mulai tanamkan bahwa saya harus menjadi orang sukses dan membanggakan orang tua saya! Saya mau membuktikan bahwa saya bisa!
Penulis Meysa KM Loban hari-harinya sebagai Siswi SMK Negeri Ampera, Kelas XI Asisten Keperawatan, di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.








Komentar