Sekilas Info

Sempat Jadi Primadona, Harga Tenunan Sumba Kini Merosot

Seorang penenun di Sumba (Waingapu) Nusa Tenggara Timur (NTT), sedang menenun di masa pandemik Covid-19. Akibat pandemik Covid-19 yang melanda dunia turut berdampak terhadap harga komoditas tenunan khas di NTT.

Beberapa penenun mulai beralih profesi menjadi petani atau nelayan, namun sebagian tetap bertahan untuk mengerjakan kerajinan tenun ini.

Salah seorang penenun ikat yang dijumpai di Kelurahan Mauliru, Andreas Ndilu Tunggul Awang, mengatakan bahwa pendapatannya saat ini berkurang karena harga jual tenun menurun.

"Bahkan hingga 50 persen dibandingkan dengan penjualan beberapa yang tahun lalu sebelum Covid-19 melanda dunia," tuturnya.

Pada hal, lanjut Andreas, harga bahan baku dan biaya pengerjaan tidak mengalami perubahan.

Harap Dukungan Pemerintah

Andreas berharap pemerintah dapat memperhatikan nasib para pengrajin tenun agar ekonomi mereka tidak terus merosot.

“sekarang ini, pendapatan yang diterima dari hasil penjualan tenun ikat menurun hingga 50 persen, padahal harga bahan baku dan biaya pengerjaannya sama," ujarnya.

"Saya berharap pemerintah dapat memperhatikan nasib para petenun. Bisa dengan memberikan bantuan bahan pokok seperti benang saja, kami sudah senang”, pungkas Andreas Ndilu Tunggul Awang.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Iryanto Njoru Hapa
Editor: Redaksi
Photographer: Iryanto Njoru Hapa

Baca Juga