Dosen Ekonomi UIN Sumut Ungkap Efek QRIS: Uang Makin Mudah Dibelanjakan, Generasi Muda Paling Rentan
Angka saldo di layar ponsel, kata Sunarji, tidak selalu memberikan dampak psikologis yang sama dengan melihat lembaran uang tunai yang semakin berkurang di dompet.
Hambatan transaksi yang semakin minim juga menjadi faktor lain. Sistem pembayaran yang cepat dan praktis membuat konsumen dapat menyelesaikan transaksi tanpa proses panjang. Kondisi inilah yang dikenal sebagai frictionless payment.
Risiko konsumtif semakin besar ketika kemudahan pembayaran digital bertemu dengan fasilitas paylater. Pemisahan antara waktu menikmati barang dan waktu melakukan pembayaran dapat menimbulkan persepsi bahwa barang yang dibeli terasa lebih murah atau bahkan seolah tidak perlu dibayar saat itu juga.
Belum lagi berbagai strategi promosi di ekosistem digital. Poin, cashback, voucher gratis ongkir hingga flash sale dapat mendorong konsumen melakukan pembelian yang sebenarnya tidak masuk dalam kebutuhan awal. “Promo, diskon, dan kemudahan transaksi memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap keputusan seseorang berbelanja daripada jenis metode pembayaran itu sendiri,” ujar Sunarji.
Generasi muda menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian. Sunarji menyebut kelompok remaja hingga dewasa muda, termasuk Generasi Z dan Generasi Alfa, memiliki kerentanan terhadap pembelian impulsif di tengah semakin kuatnya ekosistem digital.








Komentar