1. Beranda
  2. Humaniora

Empat Dekade Menjaga Gorga di Tanah Batak

Oleh ,

Oleh: Pretty Luci Lumban raja

Sebilah pahat bergerak perlahan di atas permukaan kayu. Guratan demi guratan membentuk pola yang telah dikenal masyarakat Batak selama berabad-abad. Di tangan seorang pengukir, kayu bukan sekadar bahan. Ia menjadi ruang tempat cerita, simbol, dan ingatan budaya dipertahankan.

Selama sekitar 40 tahun, Bapak Silalahi menekuni seni ukir Batak Gorga. Dari tangannya lahir berbagai motif yang tidak hanya mengandalkan keindahan bentuk, tetapi juga menyimpan makna yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Kini, ketika usianya tidak lagi muda, persoalan yang dihadapinya bukan sekadar bagaimana menyelesaikan sebuah ukiran. Ada pertanyaan yang jauh lebih besar: siapa yang akan melanjutkan pekerjaan tersebut ketika para pengukir seperti dirinya tidak lagi mampu memegang pahat?

Pertanyaan itu mengemuka ketika para peserta Relawan Bakti BUMN 2026 untuk Samosir mengunjungi Central Handicraft dan berbincang dengan Bapak Silalahi. Dari perbincangan itu tergambar situasi seni ukir tradisional Batak yang berada di antara upaya mempertahankan warisan dan tuntutan perubahan zaman.

Bapak Silalahi menuturkan bahwa minat masyarakat terhadap seni ukir Batak cenderung menurun. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap pendapatan para pengukir. Dalam setahun, omzet dari usaha ukir yang dijalankannya disebut sekitar Rp20 juta.

Berita Lainnya