Sekilas Info

Pariwisata Indonesia Kalah Telak dari Vietnam, Bali Tak Bisa Terus Jadi Andalan

Pariwisata Indonesia Kalah Telak dari Vietnam, Bali Tak Bisa Terus Jadi Andalan

DailyKlik.id, JAKARTA – Pemulihan sektor pariwisata di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) pascapandemi menunjukkan tren yang positif, namun sayangnya pariwisata Indonesia justru menghadapi pil pahit di tengah kompetisi regional yang sengit.

“Posisi pariwisata Indonesia kini tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga, terutama Vietnam yang telah berhasil menyalip posisi Indonesia selama dua tahun berturut-turut,” ujar Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, di Jakarta, dalam keterangan resmi yang diterima redaksi, Minggu (18/01/2026).

Data ASEAN Statistics Division (ASEANStats) menunjukkan, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) ke ASEAN pada 2024 telah mencapai lebih dari 127 juta orang. Sebanyak 85,70% kunjungan tersebut terkonsentrasi di lima negara. Thailand menempati posisi pertama dengan 35,5 juta wisman, diikuti Malaysia (25 juta), Vietnam (17,6 juta), dan Singapura (16,5 juta). Sementara itu, Indonesia harus puas berada di urutan kelima dengan 14,3 juta wisman.

Melihat data tersebut, Sandy menyoroti agresivitas Vietnam dalam membenahi ekosistem pariwisata pascapandemi Covid-19. Awalnya, jumlah wisatawan mancanegara Vietnam hanya 4.000 wisman pada 2021. Kemudian angka ini melonjak menjadi 12,6 juta pada 2023 dan naik lagi menjadi 17,6 juta pada 2024. Capaian tersebut melampaui Indonesia yang hanya mampu menarik 11,7 juta wisman pada 2023 dan 14,3 juta pada 2024.

"Vietnam bergerak sangat serius dengan pembangunan infrastruktur masif seperti Bandara Long Thanh yang diproyeksikan dapat menampung 100 juta penumpang per tahun, sementara kita masih berkutat pada kendala konektivitas udara yang terbatas," tambah Sandy.

Ketertinggalan ini, kata Sandy, menjadi alarm keras bagi daya saing pariwisata nasional di pasar internasional. Pada 2022 misalnya, Indonesia menguasai 13,51% pangsa pasar ASEAN, namun angka ini turun menjadi 11,45% pada 2023, dan kembali melemah ke angka 11,28% pada 2024.

"Kita tidak bisa lagi hanya sekadar merayakan angka pemulihan pariwisata jika pada saat yang sama pangsa pasar kita justru menciut," tegasnya.

Apa Kabar Program "Bali Baru" ?

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Dwinanto
Editor: Redaksi
Photographer: Istimewa

Baca Juga