1. Beranda
  2. Koperasi
  3. Opini

Koperasi Juragan: Mengapa Koperasi Gagal Tumbuh di Negeri Sendiri?

Oleh ,

Oleh Irsyad Muchtar 

Mengapa koperasi justru berkembang pesat di negara-negara kapitalis seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Belanda—padahal koperasi identik dengan semangat gotong royong dan sosialisme? Pertanyaan ini terus menggelitik.

Coba lihat Mondragon di Spanyol, Rabobank di Belanda, hingga Zen-noh di Jepang. Mereka adalah contoh koperasi kelas dunia yang sukses, bahkan AS menyumbang 71 dari 300 koperasi besar dunia versi World Cooperative Monitor 2022.

Ironisnya, di Indonesia koperasi masih dipandang remeh. Ia hanya dianggap sebagai pelengkap sektor UMKM, bukan pemain utama ekonomi. Pertanyaannya, kenapa koperasi di sini gagal berkembang? Apakah karena manusianya belum paham koperasi atau karena kebijakan yang tidak mendukung?

KUD: Jejak Masa Lalu yang Sarat Kendali dari Atas

Di era Orde Baru, sempat ada masa kejayaan koperasi lewat KUD (Koperasi Unit Desa) yang dibentuk tahun 1973. Namun, koperasi ini muncul bukan dari inisiatif warga, melainkan program dari pemerintah pusat—alias top-down. KUD lebih seperti alat bantu negara untuk mencapai target swasembada beras, bukan organisasi yang dibangun dan dikendalikan anggota. Tak heran, saat Orde Baru tumbang, KUD ikut tenggelam.

Bandingkan dengan koperasi-koperasi di Eropa yang lahir dari inisiatif warga (bottom-up) seperti yang diajarkan Bung Hatta. Artinya, koperasi ideal adalah yang dibentuk oleh dan untuk anggotanya, bukan dari atas.

Berita Lainnya