1. Beranda
  2. Opini

AI Nasional: Ambisi Besar, Digital Dasar Belum Beres

Oleh ,

Oleh: Finley Eiwan Franklin Zaluchu

Belakangan ini perang AI terjadi dalam skala global karena begitu banyak negara yang ingin menyaingi kesuksesan ChatGPT dibawah naungan OpenAI. Salah satu negara tersebut tentu sudah bisa ditebak, China. Memang ada beberapa masalah yang dihadapi China sebelum akhirnya menciptakan model AI bernama DeepSeek.

Diantaranya adalah keterbatasan akses pada model-model AI seperti ChatGPT karena adanya perang dagang teknologi AS dan China, dataset untuk melatih model yang sulit didapatkan, bahkan hardware yang sangat minim untuk AI bisa berjalan karena adanya pembatasan ekspor GPU seperti NVIDIA untuk dikirimkan ke China. Tapi pada akhirnya, mode DeepSeek nyatanya berhasil diciptakan oleh China, melampaui keterbatasan yang dihadapinya, bahkan kemampuan DeepSeek dianggap dapat bersaing melawan ChatGPT.

Pemerintah Indonesia sendiri berencana untuk Indonesia membangun model AI nya sendiri. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan pada Antara News bahwa ia ingin Indonesia memiliki model AI yang setara dengan ChatGPT atau DeepSeek.

Apakah ambisi ini memungkinkan?

Mari kita bahas terlebih dahulu mengapa membuat AI yang setara dengan ChatGPT dan DeepSeek bukan perkara yang mudah. Pertama, model AI seperti ChatGPT dan DeepSeek dinamakan sebagai model LLM (Large Language Model) dengan basis NLP (Natural Language Processing) dimana AI ini akan dilatih dengan jutaan data untuk memahami dan menghasilkan teks sesuai dengan yang mampu dipahami oleh manusia. Untuk membuat model LLM, Indonesia harus memiliki dataset yang sangat besar. Contohnya saja, GPT-3 saja memiliki dataset sebesar 175 miliar parameter. Sementara itu, saat ini Indonesia dianggap masih belum memiliki dataset yang berkualitas.

Kedua, dari segi hardware, Indonesia masih belum mumpuni. Kita membahas bagaimana AI membutuhkan hardware yang bagus untuk mampu menciptakan AI yang tepat, dan efisien sesuai dengan fungsi seharusnya. Contohnya, perlunya GPU kelas A100/H100 sebagai penunjang AI dapat “hidup” dimana harganya bisa mencapai 200 juta rupiah. AI perlu banyak GPU, bukan hanya 1 saja, tetapi ribuan. Model seperti ChatGPT membutuhkan lebih dari 10.000 GPU untuk membantu AI melakukan training selama kurang lebih 1 bulan. Bayangkan saja seberapa mahal hanya untuk segi hardware.

Ketiga, AI butuh platform cloud supaya bisa diakses real-time oleh pengguna kapan saja dan dimana saja yang mengakibatkan cloud juga harus hidup selama 24 jam. Menyewa atau melakukan hosting cloud harus mengeluarkan biaya yang mahal, bisa ribuan sampai jutaan dolar per bulan. Biaya yang fantastis yang harus dikeluarkan oleh negara hanya untuk AI saja.

Berita Lainnya