Pentingnya Kedaulatan Data Pada Arah Pembangunan Nasional Kita
Institusi-institusi ini berkembang pada era ketika politik bergerak lebih cepat ketimbang teknologi. Pada abad ke-19 dan ke-20, revolusi industri berkembang cukup pelan bagi para politisi dan pemilih untuk tetap berada di depannya dan meregulasi serta memanipulasi perjalanannya. Namun, karena ritme politik belum banyak berubah sejak masa mesin uap, teknologi telah beralih ke gigi empat.
Revolusi teknologi kini mengungguli proses-proses politik, menyebabkan para anggota parlemen dan pemilih sama-sama kehilangan kendali. (Harari, 2018)
Nyatalah sudah apa yang diprediksi Bung Karno delapan dasawarsa lalu. Bila tidak ada keinginan politik dan kemauan yang begitu kuat dari segenap bangsa, maka Indonesia tidak ada bedanya dengan keadaan di zaman kolonial hingga awal kemerdekaan.
Kapitalisme hanya berubah bentuk, mengubah caranya dalam mengeruk kekayaan dan hasil keringat rakyat Indonesia.
”...Imperialisme tua makin lama makin layu, imperialisme modern menggantikan tempatnya. Cara pengedukan harta yang menggali untung bagi negara Belanda itu makin lama makin berubah, terdesak oleh cara pengedukan baru yang mengayakan modal partikelir. Cara pengeduknya berubah, tetapi banyakkah perubahan bagi Rakyat Indonesia? Tidak Tuan-Tuan Hakim yang terhormat, banjir harta yang keluar dari Indonesia malahan makin besar, ‘pengeringan’ Indonesia malah makin menghebat!’. Imperialisme modern membuat rakyat bumiputera menjadi bangsa yang terdiri dari kaum buruh belakadan membikin Hindia (Indonesia) menjadi si buruh dalam pergaulan bangsa-bangsa...” Ir Sukarno dalam Indonesia Menggugat, (1930).
*) Penulis adalah Tenaga Ahli Anggota DPR RI sekaligus Akademisi dan mantan Jurnalis.








Komentar