1. Beranda
  2. Features

Petani Milenial: Harapan Baru Pertanian Berkelanjutan Bersama Pupuk Indonesia 

Oleh ,

Di era serba digital ini, anak muda lebih akrab dengan gawai ketimbang cangkul di tangan. Banyak yang menganggap bertani itu jadul, kotor, dan tidak menguntungkan. Tapi siapa nyana, di pelosok Nusa Tenggara Timur, generasi milenial justru mulai membalikkan pandangan itu. Dengan teknologi, inovasi, dan dukungan dari Pupuk Indonesia, mereka membuktikan bahwa bertani bukan hanya warisan leluhur, tapi juga pintu menuju masa depan yang menjanjikan.  

***

Kisah Paskalis Masan, Petani Muda di NTT yang Buktikan Bertani Itu Sejahtera

MATAHARI BARU MENGINTIP DI UFUK, tetapi Paskalis Masang, seorang petani muda sudah sibuk bekerja di sawahnya di Desa Beloto, Kecamatan Adonara Timur, Nusa Tenggara Timur. Mengenakan kaos abu-abu dan celana pendek biru muda, ia telaten memupuk tanaman padinya. Satu tangan memegang ember hitam, sementara tangan lainnya menabur pupuk.

Sendirian ia bekerja. Bentangan sawahnya dipenuhi tanaman padi muda yang hijau dan segar, dengan latar belakang: rumah penduduk, pepohonan hijau lebat, serta pegunungan yang menjulang di kejauhan di bawah langit berawan.

Bagi lelaki 32 tahun ini, bertani bukan sekadar mata pencaharian—ini adalah jalan menuju kemandirian dan kesejahteraan. "Saya memilih bertani karena ingin mandiri, tidak terikat dengan aturan orang lain," kata Paskalis, tersenyum saat ditemui di sawahnya.

Baginya, bertani bukanlah pekerjaan yang ketinggalan zaman atau sekadar pilihan terakhir. Justru sebaliknya, ini adalah profesi yang penuh potensi, terutama dengan dukungan teknologi dan akses terhadap pupuk bersubsidi dari Pupuk Indonesia. 

Berita Lainnya