Sekilas Info

Dari Hobi, Rayacraft Bertahan 16 Tahun Merawat Kerajinan Handmade Khas Tuban

Dara Apriliana (41)

Oleh: Achmad Zamroni, PiP Kabupaten Tuban

Sebuah hobi yang dilakukan untuk mengisi waktu luang bisa saja berhenti sebagai kegiatan pribadi. Namun, bagi Dara Apriliana (41), kegemaran membuat kerajinan tangan justru menjadi awal perjalanan usaha yang telah bertahan selama 16 tahun.

Dari tangan Dara, manik-manik, kain batik khas Tuban, dan berbagai bahan sederhana dirangkai menjadi bros, cincin, gelang, serta aneka aksesori handmade. Usaha yang diberi nama Rayacraft itu dirintis pada 2010 dan kini berlokasi di Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.

Sehari-hari Dara bekerja sebagai karyawan KPRI Harapan Plumpang, Kabupaten Tuban. Di sela pekerjaan utama itulah Rayacraft terus ia rawat.

Awalnya, tidak ada rencana besar di balik kegiatan tersebut. Saat mengambil cuti dari pekerjaan, Dara memilih mengisi waktu dengan membuat kerajinan tangan. Dari kegiatan sederhana itu, muncul gagasan untuk menjadikannya usaha.

“Awal mula membangun bisnis ini karena hobi. Dulu pada saat cuti kerja, saya berinisiatif untuk membuat kerajinan,” ujar Dara saat ditemui pada Selasa (8/9/2026).

Dara pun tidak menyangka bahwa hobi tersebut akan membawanya sejauh ini. Tahun berganti, permintaan datang silih berganti, dan Rayacraft perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.

Bertahan dengan Ketelitian

Ada perbedaan mendasar antara produk handmade dan barang yang dibuat secara massal. Pada kerajinan tangan, sentuhan pembuat menjadi bagian dari nilai produk.

Di Rayacraft, hampir setiap produk dikerjakan secara manual. Dara terlebih dahulu menentukan konsep dan bentuk yang akan dibuat. Setelah itu, bahan dan peralatan disiapkan sebelum setiap bagian dirangkai satu per satu.

Pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Bagi orang yang belum terbiasa, prosesnya tidak selalu mudah.

“Kalau belum terbiasa memang cukup rumit karena membutuhkan ketelitian dan kreativitas. Tetapi kalau sudah terbiasa, proses pembuatannya menjadi lebih mudah,” katanya.

Pengalaman selama bertahun-tahun membuat Dara semakin terbiasa dengan proses tersebut. Ia belajar mengenali bahan, menyusun bentuk, sekaligus menjaga kualitas agar produk tetap sesuai dengan keinginan pelanggan.

Dari berbagai produk yang dibuat, bros dagu menjadi salah satu yang paling banyak diminati. Sebagian besar pelanggan berasal dari Tuban, meskipun pesanan juga sesekali datang dari luar daerah.

Permintaan pun tidak selalu datang dalam jumlah yang sama. Ada masa ketika pesanan meningkat, terutama menjelang momentum tertentu.

Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, misalnya, permintaan bros dan suvenir biasanya meningkat. Rayacraft juga pernah menerima pesanan suvenir pernikahan dalam jumlah besar, sekitar 400 buah.

“Pesanan paling banyak biasanya bros untuk acara Agustusan. Pernah juga mendapat pesanan buat souvenir wedding sekitar 400 pcs,” ujar Dara.

Pesanan sebanyak itu menjadi tantangan tersendiri karena sebagian besar proses produksi masih dikerjakan sendiri. Ketika tenggat waktu semakin dekat, Dara meminta bantuan saudara untuk menyelesaikan pekerjaan.

Di sinilah usaha handmade menuntut lebih dari sekadar keterampilan membuat produk. Ada waktu yang harus diatur, pesanan yang harus dipenuhi, pelanggan yang perlu dilayani, dan kualitas yang harus dipertahankan.

Merawat Identitas Tuban

Bagi Dara, kerajinan bukan semata-mata tentang menghasilkan aksesori. Ada pula upaya menghadirkan karakter lokal melalui bahan yang digunakan.

Batik khas Tuban menjadi salah satu material yang digunakan dalam produk Rayacraft. Bersama manik-manik dan bahan lainnya, kain lokal tersebut diolah menjadi bagian dari aksesori yang memiliki bentuk dan fungsi berbeda.

Pilihan bahan itu sekaligus memberikan sentuhan khas pada produk. Di tengah banyaknya produk kerajinan yang beredar, penggunaan material lokal dapat menjadi pembeda sekaligus cara sederhana untuk membawa identitas daerah ke dalam sebuah karya.

Namun, mempertahankan usaha selama 16 tahun bukan perkara mudah.

Dara masih menghadapi persoalan bahan baku, pemasaran, serta keterbatasan waktu karena Rayacraft dijalankan bersamaan dengan pekerjaan utamanya. Ia tidak hanya membuat produk, tetapi juga mencari ide, menerima pesanan, berkomunikasi dengan pelanggan, mengurus pemasaran, dan memastikan barang selesai tepat waktu.

Untuk pemasaran, media sosial menjadi salah satu sarana yang digunakan. Selain itu, promosi dari teman dan tetangga turut membantu memperkenalkan Rayacraft kepada calon pelanggan.

Harga produk relatif terjangkau, mulai sekitar Rp10.000. Pendapatan setiap bulan pun berubah-ubah, mengikuti jumlah pesanan yang masuk.

Pada 2026, Dara mengakui pendapatan Rayacraft mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Namun, sepinya pesanan tidak serta-merta membuatnya berhenti.

Justru, masa sepi menjadi waktu untuk berbenah.

Saat permintaan menurun, Dara memanfaatkannya untuk mengevaluasi usaha, mencari gagasan baru, membuat inovasi, dan menyiapkan stok. Dengan cara itu, ketika pesanan kembali meningkat, ia tidak harus memulai seluruh proses dari awal.

“Kalau sedang sepi, saya manfaatkan untuk mencari ide baru, membuat inovasi, sekaligus menyiapkan stok barang,” tuturnya.

Bagi pelaku usaha yang sebagian besar prosesnya dikerjakan sendiri, kemampuan beradaptasi menjadi penting. Pasar berubah, selera konsumen berganti, dan permintaan tidak selalu dapat diprediksi.

Rayacraft bertahan bukan karena selalu berada dalam kondisi ramai, melainkan karena Dara terus mencari cara agar usahanya tetap bergerak.

Dari Hobi hingga Penghargaan

Konsistensi tersebut juga membawa Dara mengikuti sejumlah kompetisi UMKM. Dari berbagai kesempatan itu, Rayacraft memperoleh beberapa penghargaan.

Salah satunya adalah Juara III UMKM Award yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Tuban.

Penghargaan itu menjadi bagian dari perjalanan Rayacraft yang bermula dari kegiatan sederhana. Namun, bagi Dara, penghargaan bukanlah akhir dari perjalanan.

Selama 16 tahun, ia telah melewati berbagai fase. Dari membuat kerajinan untuk mengisi waktu luang, menerima pesanan dalam jumlah besar, menghadapi masa sepi, mencari bahan baku, hingga berusaha memperluas pemasaran.

Semua proses tersebut mengajarkan bahwa mempertahankan usaha kecil membutuhkan ketekunan yang panjang.

Kini, Dara masih menyimpan harapan agar Rayacraft tidak sekadar bertahan. Ia ingin usaha yang dibangunnya sejak 2010 itu berkembang dan mampu menjangkau konsumen di luar Tuban.

“Harapannya tetap bertahan, berkembang, dan bisa menjangkau pasar yang lebih luas, bukan hanya di Tuban saja. Semoga juga bisa bermanfaat atau menjadi motivasi untuk orang lain,” pungkasnya.

Rayacraft menunjukkan bahwa sebuah usaha tidak selalu lahir dari modal besar atau rencana bisnis yang rumit. Ada usaha yang tumbuh dari sesuatu yang sederhana, dikerjakan perlahan, lalu bertahan karena pemiliknya tidak berhenti belajar.

Bagi Dara, 16 tahun Rayacraft adalah perjalanan dari hobi menjadi ikhtiar. Dari tangan yang tekun merangkai satu demi satu bahan, lahir bukan hanya sebuah produk, tetapi juga cerita tentang bagaimana keterampilan, kreativitas, dan ketekunan dapat menemukan jalan menjadi sumber penghidupan.

Penulis: Zamroni
Editor: Dedy Hu
Photographer: Dokumen Dailyklik

Baca Juga