Dari Laut Belawan ke Layar Ponsel
Perjalanan ikan teri dari tangan nelayan hingga pasar digital—dan mimpi Jansen menciptakan 1.000 pekerjaan.
Oleh: Deddi Gunawan Hutajulu
Pukul 07.00 WIB, kapal-kapal nelayan mulai merapat di dermaga Gabion, Belawan.
Sekitar seratus meter sebelum mencapai dermaga, mesin kapal dimatikan. Namun kapal masih meluncur perlahan, membawa sisa lajunya menuju tempat berlabuh.
Dari kejauhan, suara kapal-kapal yang mendekat sudah terdengar.
Begitu kapal merapat, suasana berubah ramai.
Nelayan menurunkan hasil tangkapan. Ada yang berteriak menawarkan ikan. Ada yang sibuk mengangkat hasil laut. Puluhan pembeli yang sejak pagi menunggu langsung merubung, berebut mendapatkan ikan yang baru kembali dari laut.
Aroma asin laut terasa kuat.
Di tempat inilah perjalanan ikan teri Belawan dimulai.
Bagi Jansen Tanuwijaya (36), pemandangan seperti itu bukan sesuatu yang asing.
Ia tumbuh di lingkungan nelayan.
Ayahnya, Mardi, pernah melaut di Bagansiapiapi sebelum pindah ke Belawan dan menjadi nelayan sekaligus toke.
Namun Jansen tidak pernah bercita-cita mengikuti jejak ayahnya.
Ia justru pernah membayangkan dirinya menjadi guru.
Hidup membawanya ke jalan yang berbeda.
Di masa kecil, Jansen mengenal laut bukan sebagai tempat membangun bisnis, melainkan sebagai bagian dari kehidupan keluarganya.
Ayahnya melaut. Ibunya, Cincin, mula-mula berjualan air tahu. Dari usaha itu, sang ibu menabung hingga kemudian membuka kedai sembako yang memasok kebutuhan para nelayan.
Jansen membantu orang tuanya sejak kecil. Ia pernah membungkus beras dan gula di kedai keluarga. Saat SMP, ia sempat bekerja di bengkel sepeda motor.
Ketika remaja, perhatiannya bergeser kepada pendidikan dan komputer.
Laut hanya sesekali ia datangi.
Salah satu kenangan yang masih melekat adalah ketika ia ikut melaut.
Kapal biasanya berangkat sekitar pukul 18.00 WIB. Malam digunakan untuk mencari ikan. Tidak ada kepastian kapan ikan akan ditemukan.
Kadang pukul 01.00 dini hari. Kadang pukul 03.00.
Kadang nelayan harus berputar lebih jauh mencari lokasi yang diyakini memiliki ikan.
Bahkan, kata Jansen, kapal bisa berlayar hingga melewati batas perairan Indonesia dan mendekati wilayah Malaysia.
Dan yang paling tidak pasti adalah hasilnya.
Pergi melaut semalam tidak selalu berarti pulang membawa ikan.
Jika ikan tidak ditemukan, nelayan pulang tanpa kepastian penghasilan.
Jansen pernah melihat sendiri bagaimana kehidupan keluarga nelayan berhadapan dengan ketidakpastian itu.
Pengalaman tersebut kelak menjadi bagian dari alasan mengapa ia ingin membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar bisnis camilan.
Namun semuanya bermula dari sebuah momen yang sangat sederhana.
Pandemi Covid-19.
Saat itu Jansen bekerja di bagian keuangan sebuah grup perusahaan di Jakarta. Pandemi membuatnya dipulangkan untuk bekerja dari rumah.
Tidak lama kemudian, pekerjaannya berakhir.
Ia kembali ke Belawan.
Tidak ada pekerjaan. Tidak ada penghasilan tetap.
Sementara kebutuhan keluarga terus berjalan.
Di tengah situasi itu, ikan teri justru hadir sebagai camilan.
Orang tuanya yang memiliki hubungan dekat dengan nelayan sering membawa ikan teri ke rumah. Istrinya, Melissa, menggoreng ikan itu.
Jansen memakannya sambil menonton Netflix.
Satu toples habis.
Ia membuat lagi.
Habis lagi.
Lalu muncul pertanyaan sederhana:
Mengapa ikan teri tidak dijadikan bisnis?
Pertanyaan itu kemudian berubah menjadi BosTeri.
Jansen menyiapkan modal awal sekitar Rp30 juta untuk membeli bahan baku, peralatan dapur, mesin pengemasan, kemasan dan kebutuhan awal lainnya.
Produksi pertama hanya sekitar tiga kilogram.
Pesanan pertama datang dari keluarga dan teman. Sistemnya sederhana: Jansen menawarkan produk melalui WhatsApp Group, menerima pesanan, kemudian menggoreng ikan sesuai jumlah yang dipesan.
Sekitar 30-an bungkus terjual pada tahap awal.
Tidak besar.
Tetapi cukup untuk membuatnya percaya bahwa ikan teri bisa memiliki kehidupan kedua.
Bukan hanya sebagai lauk.
Sebagai camilan.
Perjalanan itu ternyata tidak selalu mulus.
Pernah Jansen membeli ikan yang ternyata tidak sesuai dengan kualitas yang diharapkan. Sekitar lima kilogram harus dibuang.
Pada kesempatan lain, sekitar 50 kilogram ikan yang sedang dikeringkan terkena hujan. Ikan yang sudah terkena air hujan tidak bisa lagi diolah.
Kerugian itu menjadi pelajaran.
Jansen kemudian semakin ketat melakukan quality control.
Ikan yang dibeli dari nelayan diperiksa sebelum masuk produksi.
Ia tidak sekadar membeli berdasarkan harga.
Jenis dan kualitas ikan menjadi pertimbangan.
Kini, bahan baku terutama diperoleh dari nelayan yang sudah dikenalnya sejak lama. Sebagian merupakan jaringan keluarga dan kenalan orang tuanya.
Sekitar tiga sampai empat pemasok menjadi pemasok utama, dengan jaringan nelayan yang lebih luas sebagai alternatif ketika diperlukan.
Dalam kondisi normal, menurut Jansen, BosTeri mengolah sekitar 300–500 kilogram ikan per bulan.
Namun perjalanan ikan itu tidak berhenti ketika dibeli.
Di rumah produksi BosTeri di Kelurahan Belawan II, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, ikan kembali berpindah tangan.
Begitu pintu dibuka, aroma ikan asin dan laut terasa.
Sebelum bekerja, para pekerja mengenakan perlengkapan pelindung seperti penutup kepala, sarung tangan, celemek, masker dan pelindung wajah.
Lalu tangan-tangan itu mulai bekerja.
Ikan dibelah. Kepala dibuang. Tulang dan isi perut dibersihkan.
Ada yang mencuci.
Ada yang meniriskan.
Ada yang menggoreng.
Ada yang membumbui.
Ada yang mengemas.
Para pekerja bekerja sambil bercakap-cakap. Sesekali mereka bercanda. Musik dari ponsel terdengar di sela-sela pekerjaan.
Tetapi tangan tidak berhenti bergerak.
Jika ikan yang datang mencapai puluhan hingga ratusan kilogram, tangan mereka akan terus bekerja hingga terasa pegal.
Mereka tidak menghitung berapa ekor ikan yang sudah dibersihkan.
Ukuran pekerjaannya sederhana:
berapa kilogram yang selesai dikerjakan.
Di tempat itu, teknologi digital belum terlihat.
Yang terlihat adalah tangan manusia.
Dan justru tangan-tangan itulah yang mengubah ikan dari hasil tangkapan menjadi produk yang siap dikirim.
Setelah digoreng, ikan didinginkan.
Kemudian diberi bumbu.
Ditimbang.
Dikemas.
Masuk kardus.
Lalu perjalanan kembali berubah.
Kali ini bukan laut yang menentukan seberapa jauh ikan itu pergi.
Layar yang menentukan.
Di rumah distribusi BosTeri di kawasan MMTC Medan, Jalan Pancing, Kecamatan Medan Estate, laptop Jansen menyala.
Ia duduk di depan layar dan memantau pesanan.
Ketika notifikasi masuk, pesanan segera diproses.
Jansen masih mengingat notifikasi pertama dari Shopee.
Ia melonjak kegirangan.
Kini notifikasi itu sudah menjadi sesuatu yang biasa.
Namun ia tetap memprosesnya secepat mungkin.
“Kalau pertama kali ya sampai meloncat aku saking senangnya. Tapi sekarang ya sudah biasa saja. Begitu dapat notifikasi tetap langsung secepatnya saya proses.”
Pesanan BosTeri tidak lagi hanya datang dari sekitar Medan.
Jawa menjadi salah satu pasar yang banyak menerima pesanan. Kalimantan sudah sering. Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Papua juga pernah menjadi tujuan pengiriman.
Bagi Jansen, perubahan itu bukan semata-mata soal jumlah penjualan.
Tetapi jangkauan.
Produk yang sebelumnya harus ditawarkan dari toko ke toko kini dapat ditemukan konsumen dari berbagai daerah melalui layar.
Namun perjalanan digital itu juga penuh percobaan.
Jansen pernah melakukan Shopee Live selama sekitar tiga bulan. Ia dan karyawan melakukan siaran dari rumah pada malam hari, sekitar pukul 20.00 hingga 22.00 WIB.
Hasilnya tidak sesuai harapan.
Dalam tiga bulan, penjualan dari sesi tersebut kurang dari 20 bungkus.
Ia menghentikannya.
BosTeri juga mencoba berbagai kanal lain, termasuk TikTok Shop, Blibli, Lazada dan membangun situs web sendiri.
Tidak semuanya menghasilkan dampak yang sama.
Dari keseluruhan penjualan, menurut Jansen, sekitar 80 persen masih berasal dari offline, sementara sekitar 20 persen berasal dari kanal online. Di antara penjualan online itu, Shopee menjadi kanal terbesar.
Artinya, digitalisasi belum menggantikan cara lama.
Ia menambahkan jalan baru.
Perubahan berikutnya datang ketika BosTeri masuk ke ekosistem pembinaan usaha.
Jansen mengenal Bank Indonesia melalui keinginannya mengikuti Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU).
Ia kemudian mendaftar menjadi binaan Bank Indonesia.
Menurut Jansen, setelah mengikuti pembinaan, penjualannya meningkat hingga sekitar 300 persen.
Namun manfaat yang ia rasakan bukan hanya angka penjualan.
Ia memperoleh pelatihan mengenai pengembangan usaha, sertifikasi dan persiapan menuju pasar ekspor.
Kemasan berubah.
Informasi produk bertambah.
Barcode dan sertifikasi mulai melengkapi produk.
Jansen mulai memahami satu hal:
memperluas pasar bukan hanya soal membuat produk enak.
Ada standar yang harus dipenuhi.
Ada sertifikasi.
Ada kemasan.
Ada konsistensi kualitas.
Ada kemampuan memenuhi permintaan.
Dan ketika pasar diperluas ke luar negeri, tantangannya menjadi semakin besar.
Malaysia datang lebih dahulu.
Jansen mengatakan perkenalan dengan calon pembeli Malaysia terjadi melalui jaringan Bea Cukai.
Pembeli tersebut tertarik pada produk BosTeri.
Bagi masyarakat Malaysia, ikan bilis merupakan bagian penting dari makanan seperti nasi lemak. Jenis ikan teri yang digunakan BosTeri dianggap memiliki karakter rasa yang menarik.
Komunikasi kemudian berlangsung melalui WhatsApp, telepon dan email.
Pesanan sempat dibicarakan.
Namun perjalanan menuju ekspor belum selesai.
Jepang juga menjadi pasar potensial.
Tetapi ada persoalan harga.
Jansen mengatakan calon pembeli membandingkan produknya dengan ikan teri dari Vietnam yang harganya lebih murah.
Ada pula persoalan sertifikasi.
Untuk memenuhi standar tertentu seperti HACCP, dibutuhkan biaya yang tidak kecil.
Dengan kata lain, internet telah menghapus sebagian batas geografis, tetapi tidak menghapus semua batas perdagangan.
Pintu pasar global mungkin sudah terlihat.
Namun Jansen masih harus membangun kemampuan untuk melewatinya.
Di sinilah perjalanan seekor ikan teri menjadi lebih dari sekadar cerita tentang camilan.
Ia menjadi cerita tentang perubahan.
Dahulu, nilai ikan berhenti relatif dekat dengan tempat ia didaratkan.
Nelayan menangkap.
Pedagang membeli.
Ikan dijual.
Kini, satu ikan teri dapat melewati lebih banyak tangan.
Nelayan menangkapnya di laut Belawan.
Pekerja membersihkannya.
Ikan digoreng dan diberi bumbu.
Produk dikemas.
Pesanan muncul di layar.
Kurir mengambilnya.
Lalu produk itu bergerak menuju konsumen di berbagai penjuru Indonesia.
Teknologi memperpanjang perjalanan itu.
Tetapi manusia tetap menjadi pusatnya.
Bagi Jansen, pertumbuhan BosTeri memiliki tujuan yang lebih jauh.
Ia ingin menciptakan lapangan pekerjaan bagi 1.000 warga sekitar dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Target itu tidak lahir dari ruang rapat perusahaan besar.
Ia lahir dari pengalamannya melihat langsung kehidupan warga Belawan.
Jansen membayangkan suatu hari rumah produksi yang lebih besar dapat mempekerjakan ratusan orang, terutama warga sekitar yang memiliki keterbatasan pendidikan dan kesempatan kerja.
Ia pernah merasakan sendiri bagaimana rasanya tidak memiliki penghasilan ketika pekerjaan hilang.
Kini ia ingin menciptakan penghasilan bagi orang lain.
Suatu hari, ketika permintaan meningkat dan puluhan pekerja memenuhi rumah produksi, Jansen sempat terdiam.
Ia melihat para pekerja—banyak di antaranya ibu-ibu—bekerja dari pagi hingga sore.
Mereka tersenyum.
Mereka mendapat pekerjaan.
Saat itu ia merasa bangga.
Bukan semata karena BosTeri mendapat pesanan besar.
Tetapi karena bisnis kecil yang bermula dari ikan teri goreng di rumah ternyata bisa menciptakan pekerjaan bagi orang lain.
Di situlah makna perjalanan ini menjadi jelas.
Ikan teri itu kecil. Tetapi perjalanan ekonominya tidak.
Dari laut Belawan, ia berpindah ke tangan nelayan.
Ke tangan pekerja.
Ke wajan.
Ke kemasan.
Ke kardus.
Ke kurir.
Ke layar.
Lalu menuju rumah konsumen yang mungkin bahkan belum pernah menginjakkan kaki di Belawan.
Dan perjalanan itu belum selesai.
Jansen masih ingin membawanya lebih jauh—ke Malaysia, Jepang, dan pasar-pasar lain yang kini tidak lagi terasa sejauh dulu.
Namun bagi anak nelayan itu, ukuran keberhasilan akhirnya bukan hanya seberapa jauh ikan teri tersebut bisa dikirim.
Melainkan berapa banyak warga Belawan yang bisa ikut bergerak bersamanya.
Dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang, ia membayangkan 1.000 orang memiliki pekerjaan.
Pukul 07.00 pagi, kapal-kapal itu akan kembali lagi ke dermaga Gabion.
Nelayan akan menurunkan ikan.
Pembeli akan menunggu.
Sebagian ikan teri mungkin akan berakhir di pasar.
Sebagian lainnya mungkin masuk ke rumah produksi BosTeri.
Dari sana, ia bisa berakhir di meja makan keluarga di Jawa, Kalimantan, Papua—atau suatu hari di luar negeri.
Perjalanannya mungkin masih panjang.
Begitu pula perjalanan Jansen.
Ia tidak lagi sekadar ingin menjual ikan teri.
Ia ingin membuat 1.000 orang memiliki pekerjaan.
Laut memberi ikan itu.
Tangan manusia memberinya nilai.
Dan teknologi memberinya jalan untuk pergi lebih jauh.