1. Beranda
  2. Features

Sebelum Cantika Berlari

Oleh ,

Oleh: Deddi Gunawan Hutajulu

Pasir jatuh dari sorong ke tengah lapangan.

Cangkul kembali terangkat. Beberapa bapak meratakan pasir di lapangan voli di samping Gereja HKBP Maranatha Namo Bintang.

Di sudut lapangan, batang-batang pinang tua menunggu dipasang menjadi tiang.

Sesekali tawa pecah di antara suara cangkul dan pasir.

Di bawah kanopi gereja, Cantika duduk memperhatikan.

Tak jauh darinya, seorang lelaki berkaos oblong merah, celana pendek cokelat, dan sandal hitam sedang memasang tiang voli bersama beberapa warga.

Willer Johansen Nababan

Lubang sudah disiapkan. Batang pinang setinggi sekitar tiga meter diangkat.

“Sedikit ke kiri...”

“Ya, sudah pas!”

Semen dituangkan di sekeliling pangkalnya.

Willer Johansen tetap menahan tiang itu sampai tegak.

Beberapa meter dari sana, Cantika melihat anak-anak lain bermain.

Ia berdiri.

Lalu berlari.

Herma dan Cantika di halaman Gereja HKBP Maranatha Namo bintang, Kecamatan Pancurbatu, Deliserdang, Sumatera Utara.

Dua tahun sebelumnya, Herma Ginting masih mengajar.

Ia sudah memperoleh sertifikasi sebagai guru profesional dan mengajar di tiga unit sekolah di Medan. Lebih dari seribu murid pernah diajarnya.

Cantika sulit makan.

Ketika berusia satu tahun delapan bulan, berat badannya hanya sekitar sembilan kilogram.

Herma mencoba berbagai cara.

Nasi ditolak. Sayur, telur, dan bahan makanan lain kemudian diolah dan dibentuk menjadi makanan yang lebih mudah diterima Cantika.

Mereka juga membawa anak itu ke dokter gizi dan mengikuti berbagai anjuran.

Pada Juli 2024, Herma berhenti mengajar.

Ia sudah bersertifikasi dan menerima tunjangan profesi.

Ada orang yang mengatakan suatu hari ia akan menyesal.

“Bagi orang yang waras memang salut. Bagi manusia yang nggak punya hati, aku ini bodoh.”

“Tuhan kasih aku kepercayaan mendidik satu anak ini dan berhenti sejenak mendidik 1000 murid yang kutinggalkan.”

Herma tidak berhenti mengajar.

Rumahnya menjadi ruang kelas.

Setiap sore, murid-murid les datang. Ada yang belajar piano, keyboard, biola, vokal, gitar, dan bass. Ada pula yang belajar melukis dan menggambar.

Kadang, Herma duduk di depan keyboard.

Ia memainkan lagu-lagu rohani sambil bernyanyi.

Pintu kamar Cantika terbuka.

Cantika bermain di dalam.

Suara ibunya terdengar sampai ke kamar.

Ia ikut nimbrung.

Di kesempatan lain, Cantika duduk di depan keyboard bersama ayahnya.

Willer Johansen Nababan bersama putrinya, Cantika

Willer Johansen seorang guru seni musik.

Ia mengajar dan melatih remaja serta kaum muda.

Cantika biasa ikut ketika Herma atau Willer Johansen berlatih koor.

Latihan berlangsung setelah partangiangan atau ketika Punguan Ama dan Punguan Ina berlatih di gereja. Herma dan Willer Johansen adalah dirigen di gereja.

Ia juga ikut dalam kegiatan STM.

Pada Juli 2026, Cantika mulai masuk TK-A di Yayasan Anastasia. Sekolah itu tidak lagi membuka kelas playgroup, sehingga orang tuanya langsung mendaftarkannya ke TK-A.

Cantika belum mau berpisah dari orang tuanya.

Bahkan ketika anak-anak membuat lingkaran besar, Cantika berani bernyanyi di depan mereka dengan wajah gembira.

Gurunya, Leaovani Peranginangin, melihat perubahan itu sejak Cantika pertama masuk.

Dulu, katanya, Cantika tidak mau berpisah dari orang tua.

Sekarang ia sudah bisa.

Ia juga mau duduk makan bersama teman-temannya.

Menurut gurunya, paling banyak ia makan sekitar lima suap.

Tetapi ia mau duduk.

Setiap pagi, Herma mengantar Cantika ke sekolah.

Jaraknya sekitar 800 meter.

Cantika belum suka berjalan kaki.

“Capek,” katanya.

Maka Herma menggendongnya.

Cantika memeluk leher ibunya. Sesekali tangannya memainkan rambut Herma sementara perempuan itu berjalan menuju sekolah.

Sesampainya di sekolah, Cantika kini bisa ditinggal.

Cantika bermain di TK A Anastasya.

Bidan Lasma Ritonga mengenal keluarga itu.

Menurutnya, anak yang sulit makan membutuhkan kesabaran orang tua.

Makanan bisa diubah bentuknya. Anak bisa diajak bermain atau bercerita sambil makan. Ayah juga bisa ikut menyuapi.

“Pak Cantika itu pun aktif sebagai ayah,” katanya.

Dulu anak itu sering menangis.

Sekarang ia lincah dan mudah tertawa.

“Gak sia-sia ternyata perjuangan orang tuanya.”

Sore mulai turun di lapangan samping gereja.

Awan menggumpal di atas lapangan. Asap daun kering yang dibakar terbawa angin.

Para ibu masih menyiapkan minuman dan makanan ringan.

Tiang voli yang tadi ditahan tiga orang kini berdiri tegak.

Willer Johansen duduk di bawah kanopi dan minum.

Dari kejauhan terdengar suara anak-anak.

“Bapak!”

Willer Johansen menoleh.

Cantika terus berlari.

--

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI

Berita Lainnya