1. Beranda
  2. Features

Ketika Rasa Takut Membungkam Kebenaran

Oleh ,

"Sudahlah, Pak, berhenti saja."

Malam itu, Supriana akhirnya mengucapkan kalimat yang selama berbulan-bulan hanya ia simpan dalam hati.

Kalimat itu bukan lahir karena ia membenci hutan mangrove yang selama lebih dari dua dekade ditanam suaminya. Bukan pula karena ia meragukan perjuangan lelaki itu menjaga pesisir Batu Bara dari abrasi.

Ia takut.

Yang terus menghantui pikirannya hanya satu: keselamatan kedua anak mereka.

Beberapa kali orang-orang tak dikenal datang ke rumah. Tak lama kemudian, Azizi dilaporkan ke aparat setelah menolak alih fungsi kawasan pesisir menjadi kebun sawit. Setiap ancaman membuat Supriana semakin yakin bahwa perjuangan suaminya bisa berujung petaka bagi keluarga mereka.

Tetapi Azizi tidak berhenti.

Keesokan paginya, ketika air laut belum pasang, ia kembali memanggul propagul mangrove menuju lumpur pesisir Gambus Laut. Seperti hari-hari sebelumnya.

Ada masa ketika Azizi belum mengenal istilah mangrove. Bagi anak-anak di pesisir Gambus Laut, hutan itu hanya bernama bakau. Di sanalah ia tumbuh. Hampir setiap hari ia berlari menyusuri lumpur di antara akar-akar bakau yang menjulur ke segala arah. Di sela-sela akar itu, kepiting dan udang bersembunyi.

Berita Lainnya