1. Beranda
  2. Pendidikan

Kisah Aing dan Harapan untuk Cucu: Saat Pendidikan Jadi Jalan Keluar dari Kemiskinan

Oleh ,

DAILYKLIK.ID, MEDAN — Di tengah keramaian acara tali asih menjelang Imlek di pelataran Auditorium Bung Karno, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, seorang perempuan renta duduk paling depan. Namanya Aing. Ia tak pernah mengeja namanya sendiri, apalagi membaca atau menulis. Masa kecilnya berpindah-pindah, dibayangi kemiskinan yang kemudian diwariskan kepada anak-anaknya, dan kini mengintip masa depan cucunya, Marcela.

Pada Sabtu siang itu, Aing membawa satu harapan sederhana: agar Marcela, bocah enam tahun dengan pita merah di rambutnya, kelak bisa bersekolah di SD Sultan Iskandar Muda. Harapan itu ia sampaikan lirih ketika dr Sofyan Tan menghampiri dan menyapa satu per satu warga yang hadir. Marcela menatap penuh antusias saat ditanya apakah ia ingin bersekolah. “Mau sekolah di sini,” ujarnya pelan, namun mantap.

Sofyan Tan, Ketua Dewan Pembina YPSIM, sudah lama mengenal wajah kemiskinan di kawasan Sunggal. Ia melihat bagaimana generasi demi generasi tersandera nasib yang sama: putus sekolah, bekerja sejak muda, dan kehilangan kesempatan memperbaiki kehidupan. Karena itu, ia mendirikan sekolah—dari TK hingga perguruan tinggi—agar warga sekitar memiliki satu pintu keluar yang nyata.

Dalam pesannya pada perayaan Imlek 2026, ia mengingatkan bahwa angpao dan sembako tidak akan membuat siapa pun kaya. Pemberian itu, katanya, hanya sarana berbagi kebahagiaan. Yang mampu mengubah hidup hanyalah pendidikan. “Jika ingin memutus kemiskinan, sekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi, dan jangan lagi berjudi,” ujarnya.

Bagi Aing, kata-kata itu seperti menyulut harapan baru. Perjalanan panjang yang tidak pernah ia tempuh—membaca, menulis, duduk di bangku sekolah—mungkin bisa dilalui cucunya. Pendidikan menjadi mimpi yang sederhana sekaligus paling revolusioner. Sebuah jalan keluar yang ia harapkan tak akan lagi terputus di tengah jalan.

Berita Lainnya