1. Beranda
  2. Daerah

Perdagangan Orang, Tokoh Gereja Bongkar Negara Abai Lindungi Ibu-Ibu Migran, Pelaku TPPO Berkeliaran

Oleh ,

Dailyklik.id, KUPANG – Peringatan Hari Anti Perdagangan Orang 31 Juli 2025 di Kupang memanas! Dalam dialog publik bertema “Perdagangan Manusia adalah Kejahatan Terorganisir – Akhiri Eksploitasi”, tokoh gereja dan aktivis NTT melontarkan kritik pedas terhadap negara yang dianggap abai dalam melindungi pekerja migran dan membiarkan penegakan hukum terhadap TPPO jalan di tempat.

Sorotan tajam dilontarkan Veronika Ata dari Lembaga PPA-NTT yang menyebut perempuan dan anak jadi korban terbesar TPPO. Ironisnya, kasus viral mantan Kapolres Ngada justru luput dari jerat Undang-Undang TPPO. “Pelaku utama bebas, malah korban berusia 20 tahun yang dikorbankan. Ini kebobrokan hukum yang nyata,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala KP2MI Kupang, Suratmi Hamida, membeberkan fakta mengejutkan: 95% pekerja migran dari NTT adalah ibu-ibu dengan balita. Mereka terpaksa merantau ke Malaysia demi bertahan hidup di tengah kemiskinan ekstrem dan minimnya peluang kerja di NTT. “Bahkan air saja sulit, apalagi uang. Migrasi itu jadi satu-satunya pilihan,” katanya.

Suratmi juga mengungkap realita pahit, di mana para suami di kampung sering mengeluh karena istri mereka yang bekerja di luar negeri telat mengirim uang. Tak hanya itu, politik balas dendam lokal juga membuat warga non-pendukung penguasa dicoret dari daftar bantuan. “Jabatan dijadikan alat, bukan pengabdian,” tandasnya.

Perwakilan Keuskupan Agung Kupang, Rm. Marsel Pr, ikut menggebrak forum. Ia menyebut pemerintah gagal total mengatasi perdagangan manusia. “UU PMI belum disahkan sampai hari ini. Negara diam saat martabat manusia diinjak-injak,” kecamnya.

Para peserta yang tengah mengikuti diskusi publik bertemakan "Perdagangan Manusia adalah Kejahatan Terorganisir – Akhiri Eksploitasi” di Aula Gereja Assumpta Kupang. Foto diambil pada 31 Juli.

Dialog yang digelar Jaringan Talitakum ini tak hanya menggugah kesadaran, tapi juga membongkar borok sistemik dalam tata kelola perlindungan migran dan korban TPPO. Suara-suara lantang dari gereja, aktivis, hingga lembaga perlindungan anak bergema jadi pengingat bahwa perdagangan manusia bukan sekadar statistik—ini soal nyawa dan kemanusiaan yang dilupakan.

Berita Lainnya