Martumba, Warisan Batak yang Mulai Terlupa, Dihidupkan Kembali Lewat Festival dan Peran Dosen Universitas HKBP Nommensen
Namun seiring perkembangan zaman, martumba perlahan tersisih. Bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi juga dari sisi nilai dan fungsi sosialnya. Inilah yang mendorong Pdt. Partohap dan rekan-rekannya di Universitas HKBP Nommensen bergerak. Festival ini menjadi langkah awal revitalisasi martumba ke tengah masyarakat, terutama generasi muda.
“Kita ingin martumba kembali menjadi media orang tua menyampaikan harapan kepada anak-anak mereka, agar tumbuh menjadi pribadi yang berguna, bukan beban bagi masyarakat,” ujarnya.
Upaya pelestarian ini pun tidak berhenti di satu titik. Dalam rencana jangka panjang, martumba akan dibumikan kembali lewat kolaborasi dengan gereja dan lembaga pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA. Harapannya, martumba tidak sekadar dipertahankan, tetapi juga tumbuh sebagai bagian hidup budaya Batak masa kini—mengakar, berdetak, dan menyatu dalam denyut zaman.








Komentar