Masuk atau Singgah Injil di Waniok? Perdebatan Makna Sejarah Rohani di Lembah Yahuli
dailyklik.id, JAYAPURA – Setiap kali peringatan Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil (HUT PI) digelar, satu perdebatan tak pernah absen di kalangan warga Klasis GKI Yalimu Angguruk: apakah kampung Waniok adalah tempat masuk Injil atau hanya persinggahan Injil?
Tahun ini, peringatan 64 tahun Pekabaran Injil kembali membuka lembar perbedaan tafsir sejarah. Sebagian warga Waniok meyakini 1 Mei 1961 adalah tanggal bersejarah saat Injil pertama kali masuk ke kampung mereka. Namun, sebagian warga Yali lainnya melihat Waniok hanya sebagai tempat persinggahan Injil sebelum akhirnya masuk dan menyebar di Angguruk.
Perbedaan penafsiran ini tak sekadar soal lokasi geografis, tetapi menyentuh makna spiritual, identitas rohani, dan semangat penginjilan di tanah Papua.
Waniok, Awal atau Transit?
Mantan Ketua Klasis Yalimu Angguruk, Pdt. Ruben Msiren, dalam khotbahnya tahun 2022 menegaskan: Waniok bukan sekadar tempat singgah, tapi pintu masuk pekabaran Injil di Lembah Yahuli.
“Kalau orang bilang Waniok hanya tempat persinggahan, itu salah. Di sanalah pemberitaan Injil dimulai dan penyebarannya bergerak,” ujarnya kala itu dalam perayaan HUT ke-61 tahun PI dan peletakan batu pertama Gereja Lahai-roi Waniok.
Di sisi lain, warga Waniok sendiri menekankan bahwa penggunaan istilah "masuk Injil di Waniok" adalah bagian dari rasa syukur mereka. “Itu bukan untuk mendikte orang lain, tapi cara kami mengenang kemerdekaan rohani kami,” kata mereka.
Lebih dari Sekadar Kata
Bagi warga Waniok, tidak penting apakah istilah yang dipakai seragam di semua jemaat. Yang terpenting adalah semangat menghormati peristiwa rohani 1 Mei 1961. Meski secara historis Injil dibawa dari Waniok ke Angguruk pada 19 Mei 1961, warga tetap memaknai momen tersebut sebagai tonggak awal terang Injil di kampung mereka.
Pendeta Dr. Siegfried Zollner, misionaris yang ikut membawa Injil ke wilayah ini, turut menanggapi lewat pesan WhatsApp. Ia menyatakan bahwa istilah “masuk Injil” di Waniok memang lebih tepat.
“Saat kami tiba di Waniok, kami belum tahu di mana akan membangun landasan. Akhirnya Angguruk dipilih karena kondisi geografis. Tapi keputusan kami tinggal di Lembah Yahuli adalah rencana Tuhan,” ujarnya.
Zollner menegaskan bahwa meskipun keputusan lokasi bersifat manusiawi, penyertaan Tuhan jelas terasa dalam setiap langkah misi.
Makna yang Lebih Dalam
Lebih dari sekadar klaim lokasi, perdebatan ini mengingatkan bahwa yang paling penting bukan di mana Injil pertama kali mendarat, tetapi sejauh mana Injil telah masuk ke dalam hati umat.
“Berapa banyak dari kita yang sungguh-sungguh hidup dalam terang Injil Kristus? Dan siapa saja yang masih aktif mengabarkannya?” menjadi refleksi yang ditawarkan dalam perayaan HUT ke-64 masuk Injil di Waniok tahun ini.